Peri Hutan dan Monster Penghisap Darah
Part
2 (Semon)
Aku
melihat sosok mahluk bertubuh besar menerjang putri asya. Aku yang tidak siap terjerembab kebelakang
menabrak barisan pohon yang diam.
“Aaaaaaaaaaa.......!!!!”. Aku mendengar teriakan putri asya sebelum
tubuhku terbanting lagi kekanan. Badanku
remuk redam, namun aku tidak mungkin membiarkan mahluk itu membawa putri. Aku adalah pengawalnya. Aku tidak boleh kehilangan dia. Namun tenaga ku seperti tersedot habis. Kaki ku mati tak mau bergerak seincipun.
Begitu pula tanganku. Lamat lamat aku
melihat bayangan besar mendekat ke tengkukku.
Pandanganku semakin kabur dan gelap.
*******
Keesokan
harinya, aku terbangun di gubuk tua dipinggir sungai. Suara gemericik air mengalir
membangunkanku. Aku berusaha membuka
mataku perlahan dan lamat lamat aku melihat langit langit kamar berupa anyaman
bambu dengan lampu menggantung ditengahnya.
Aku berusaha menggerakkan badanku, namun rasa sakit menghentikanku, aku
mengaduh perlahan dan tersedak.
“kau
sudah sadar nak?”. Pertanyaan itu keluar dari seorang nenek yang sedang
menumbuk sesuatu di dekat aku tergeletak.
Aku tak menjawab dan hanya mengaduh.
“Lukamu
tidak besar dan juga tidak banyak. Namun
kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari.
Sepertinya kau diserang oleh monster monster gunung itu”. Tambahnya.
“Monster
gunung?”, tanyaku masih dengan menahan perih.
“ya,
benar,monster penghisap darah itu, monster itu sangat kejam, aku pernah
memergokinya menghisap darah seorang warga dibalik gunung, aku hanya bisa
melihat orang itu menjerit jeri tanpa bisa memberi pertolongan”. Jawabnya dengan wajah sedih dan takut.
“seorang
manusia?,”. tanyaku lagi.
“ya,
manusia, sama sepertiku dan sepertimu. Monster itu dengan kasar merenggut leher
manusia itu dan langsung mengisap darahnya tanpa sisa. Aku sempat berteriak
kecil melihat betapa kejamnya monster itu menghisap darah, hingga aku lari
menjauh karena monster itu mengetahui keberadaanku disana”.
Sepertinya
nenek baik ini tidak mengetahui identitasku, ada baiknya ia tidak menyadarinya
sampai akhir untuk berjaga jaga. Tapi, jika jika apa yang dilihat nenek ini
benar, maka manusia yang ditemukan oleh ava dan kaumnya dibunuh oleh monster
kejam itu. Kesalahpahaman yang sangat
fatal. Dimana tuan putri sekarang?, ia dalam bahaya, aku harus segera
menemukannya. Kataku dalam hati.
Aku
pun bergerak hendak bangkit.
“aaaah...,”
teriak ku tertahan.
“nak,
kamu jangan banyak bergerak dulu. Lukamu memang tidak besar dan tidak banyak,
namun belum benar benar sembuh, akan lebih baik kamu berbaring saja agar cepat
pulih, katakan lah apa yang kau perlukan padaku, aku akan mendapatkannya
untukmu”. Cegah sang nenek.
“aku
harus segera pergi nek, put, eh teman ku dalam bahaya”.
“apa?,
kau kemari dengan temanmu, ?, oh
malangnya, aku tak menemukan ia di dekatmu”.
“oleh
karena itu, nek, saya harus pergi. Aku tak ingin mengambil resiko buruk karena
terlalu lama meninggalkannya”.
“Tapi
nak, lukamu belum kering seutuhnya, kau hanya akan semakin terluka jika
memaksakan diri, kesempatanmu menemukan ia dan menyelematkannya sangat kecil
jika melihat kondisi mu sekarang”.
“aaaaah...!,
apa yang harus aku lakukan nek”. Teriakku kesal degan diriku sendiri.
“tunggulah
sampai terbit matahari, akan ku buatkan ramuan untukmu agar cepat pulih”.
Aku
hanya mengangguk tak dapat membantah, benar apa yang dikatakan nenek baik ini. Aku
tak akan bisa menyelamatkan tuan putri jika kondisi ku seperti ini. Tuan putri
bertahanlah sebentar lagi.
*********
https://bamssatria22.wordpress.com/page/38/

ditunggu yaaa untuk part 3 nya
BalasHapus