Perubahan Iklim Menyebabkan Petani Menangis
Perubahan iklim menjadi salah satu permasalahan dunia yang sulit dipecahkan. Perubahan iklim tersebut disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah penggunaan sumberdaya tak terbarukan yang berlebihan, deforestasi hutan, emisi gas rumah kaca yang semakin hari semakin tinggi dan banyak lagi lainnya. Tanpa disadari, manusia menggali lubang kuburannya sendiri. Perlu adanya upaya upaya khusus yang bertujuan untuk membuat masyarakat sadar lingkungan, dengan begitu dampak rusaknya lingkungan dan emisi gas rumah kaca dapat ditekan.
Dampak nyata yang saat ini sudah terasa oleh masyarakat khususnya petani, yaitu sulitnya memprediksi musim hujan serta musim kemarau, yang berakibat pada pergeseran musim tanam. Suripto (50 tahun) adalah salah satu petani yang merasakan akibat langsung dari perubahan iklim yang terjadi. Pasalnya sudah dua tahun ini suripto mengalami gagal panen akibat lahan sawahnya terlalu lama terendam air. "Padi memang membutuhkan air mbak, tapi kalau sampai 2 minggu terendam air, ya padinya busuk semua", ungkapnya.
http://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/18/01/29/p3arxl415-indonesiafao-petakan-dampak-perubahan-iklim
Suripto dan petani Desa Sumbergede, Lampung Timur banyak mengalami kerugian akibat hujan yang terjadi setiap hari. Petani di Desa Sumbergede salah memprediksi musim tanam, oleh sebab itu dua tahun terakhir mengalami gagal panen, selain hujan, musuh petani Desa Sumbergede adalah tikus. Tahun ini Suripto dan petani lainnya mencoba mengganti jenis tanaman yang ditanam di lahan pertanian mereka dengan jagung dan singkong. Upaya tersebut diharapkan dapat berhasil mengingat perkiraan musim saat ini sulit dilakukan.
Upaya lain yang saat ini sedang dilakukan adalah kampanye lingkungan yang dilakukan oleh kelompok sadar lingkungan mahasiswa Unila yang berasal dari Lampung Timur. Kampanye ini dilakukan dalam kehidupan sehari hari masing masing mahasiswa, dengan tujuan memberikan contoh untuk keluarga dan masyarakat sekitar, serta mengajak masyarakat untuk hemat energi dengan bentuk kampanye kecil yang dilakukan masing masing mahasiswa ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Bentuk kegiatan kampanye berupa ajakan mematikan lampu yang tidak digunakan, mencabut stop kontak, hemat air, menanam pohon di pekarangan rumah, dan mendaur ulang sampah.
Dampak nyata yang saat ini sudah terasa oleh masyarakat khususnya petani, yaitu sulitnya memprediksi musim hujan serta musim kemarau, yang berakibat pada pergeseran musim tanam. Suripto (50 tahun) adalah salah satu petani yang merasakan akibat langsung dari perubahan iklim yang terjadi. Pasalnya sudah dua tahun ini suripto mengalami gagal panen akibat lahan sawahnya terlalu lama terendam air. "Padi memang membutuhkan air mbak, tapi kalau sampai 2 minggu terendam air, ya padinya busuk semua", ungkapnya.
http://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/18/01/29/p3arxl415-indonesiafao-petakan-dampak-perubahan-iklim
Suripto dan petani Desa Sumbergede, Lampung Timur banyak mengalami kerugian akibat hujan yang terjadi setiap hari. Petani di Desa Sumbergede salah memprediksi musim tanam, oleh sebab itu dua tahun terakhir mengalami gagal panen, selain hujan, musuh petani Desa Sumbergede adalah tikus. Tahun ini Suripto dan petani lainnya mencoba mengganti jenis tanaman yang ditanam di lahan pertanian mereka dengan jagung dan singkong. Upaya tersebut diharapkan dapat berhasil mengingat perkiraan musim saat ini sulit dilakukan.
Upaya lain yang saat ini sedang dilakukan adalah kampanye lingkungan yang dilakukan oleh kelompok sadar lingkungan mahasiswa Unila yang berasal dari Lampung Timur. Kampanye ini dilakukan dalam kehidupan sehari hari masing masing mahasiswa, dengan tujuan memberikan contoh untuk keluarga dan masyarakat sekitar, serta mengajak masyarakat untuk hemat energi dengan bentuk kampanye kecil yang dilakukan masing masing mahasiswa ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Bentuk kegiatan kampanye berupa ajakan mematikan lampu yang tidak digunakan, mencabut stop kontak, hemat air, menanam pohon di pekarangan rumah, dan mendaur ulang sampah.

Tidak ada komentar