Peri Hutan dan Monster Penghisap Darah
http://www.muvila.com/film/artikel/yang-perlu-kalian-ketahui-tentang-monster-universe-saingan-dari-marvel-cinematic-universe-150427e-page2.html
PART 1
PART 1
Namaku
asya, aku adalah putri dari raja peri carlos yang menguasai hampir seluruh
bagian hutan di Dunia kecuali daerah kutub yang saat ini dikuasai oleh peri
pentrosa. Kami adalah peri hutan yang
sangat mencintai lingkungan. Ayah sudah 100 tahun bertahta menggantikan kakekku
yang meninggal karena sakit tua. Selama ini negeri ini nyaman dan damai. Hutan
hutan hijau yang luas menutupi separuh lebih dunia menyediakan oksigen yang
menjadi barang yang sangat penting untuk keberlanjutan kehidupan di bumi. Saat itu manusia hanya berkisar 1000
jumlahnya, mereka para manusia hidup tentram dengan tanaman yang subur dan air
yang jernih yang terus mengalir sepanjang tahun. Kami dan manusia hidup berdampingan dengan
damai.
Kakek
ku membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan umat manusia. Tentunya
dengan hak dan kewajiban tertentu. Kerjasama tersebut kini dilanjutkan dengan
baik oleh ayahku. Raja carlos. Kami
bangsa peri berkewajiban membantu melakukan penyerbukan tanaman yang manusia
tanam di ladang ladang mereka dan membantu menjaganya agar tidak diserang hama,
sedangkan mereka berkewajiban untuk menjaga lingkungan dengan tidak menebang
pohon satu pun di dunia ini. Harus ada
izin khusus dari ayah untuk menebang pohon.
Selama 125 tahun kepemimpinan kakek dan 100 tahun kepemimpinan ayah,
janji itu masih terpegang dengan kuat dan menjadi siklus alam yang indah,
hingga pada suatu hari ditemukan mayat di padang gandum. Dunia mulai menjadi berubah.
“ayaaaaaah....!!!”.
Teriakku.
“ayaah,
banyak manusia di depan pintu gerbang kerajaan ayah!, mereka terlihat marah.
Asya takut...!”. Lanjutku.
Ayah
segera berdiri dan memerintahkan pengawal kerajaan untuk berjaga. Aku mengikuti ayahku keluar. Seketika terlihat pemandangan mengerikan di
depan gerbang kerajaan. Para manusia
dengan wajah putus asa terdiam dan menggemeretakkan gigi mereka.
“Bagus,
kamu keluar wahai raja peri hitam..!, aku dan kaumku tidak bisa berdiam diri
lagi, hari ini tiba saatnya kaummu mati ditangan kami, sama seperti yang kaum
kalian lakukan pada salah seorang diantara kami..!”. teriak ava berang.
Ava
adalah pimpinan kaum manusia. Ia adalah
sahabat karib ayah, namun hari ini persahabatan mereka hancur karena kesalah
pahaman.
“ava!,
tidak bisakah engkau dan kaummu masuk dulu dan berbincang dengan ku, aku rasa
ada kesalah pahaman yang terjadi disini. Kami kaum peri tidak pernah sekalipun
melanggar janji yang leluhur kita buat ribuan tahun lalu”.
“Masuk??,
kau ingin aku masuk dan meminum rancun dari cangkir perakmu hah...!, kami
bangsa manusia bukan orang bodoh carlos..!, aku tidak akan tertipu lagi dengan
kata kata manismu yang busuk itu..!”.
“kau
salah sahabatku, kaumku tidak pernah sekalipun menghianati perjanjian itu, Aku
menjaminnya..!”. sanggah ayahku masih
dengan kesabaran dan kewaspadaan.
Ava
dan kaum manusia lainnya yang datang tidak menunjukkan keinginan untuk berdamai
dan mendengarkan penjelasan ayah. Perang
sepertinya sudah tidak dapat terhidarkan lagi. Ayah menyuruh Semon, anak
pemimpin prajurit peri hutan untuk membawaku pergi.
Seketika
tangan ku ditarik dan menghilang. Dalam
sekejap aku dan semon telah berada di luar gerbang istana. Semon melakukan teleportasi untuk
menyelamatkanku dari perang. Aku mulai
melihar api berkobar dan suara pedang berdesing dibelakangku. Ketika semon
menarik tangan ku kembali untuk pergi, tiba tiba sepasang mata merah menyambar
kearah kami. Namun Semon berhasil menarikku menjauh.
“mahluk
apa itu semon...!” teriakku.
Semon
menggeleng tidak tahu dan kami hanya berpandangan. Suara pedang di belakang kami semakin nyaring
terdengar. Cahaya kuning terlihat semakin terang mengelilingi istana tempat
tinggalku. Cahaya pertahanan. Ayah masih
saja berusaha untuk tidak melanggar perjanjian yang dibuat oleh kakek ku dengan
hanya melakukan pertahanan tanpa penyerangan.
Namun aku tidak tahu sampai seberapa lama ayah bisa bertahan dengan
amukan manusia yang semakin kalap akan dendam itu.
Aku
sudah tidak lagi melihat kebelakang ketika semon melakukan teleportasi lagi.
Yah, kami memang bangsa peri, namun kami tidak bersayap seperti di dongeng
dongeng yang diceritakan. Teleportasi adalah salah satu kemampuan yang kami
miliki untuk berpindah, selain mengendarai burka, sejenis kuda terbang. Namun tiba tiba aku dan semon terpental
karena menabrak sesuatu. Saat aku
mengaduh semon mulai mencengkeram tangan ku dengan kuat.
“Asya...!,
coba lihat kedepan...!, mahluk apa itu?”.
Sambil
memegangi lututku yang berdarah aku melihat kearah yang di tunjuk semon.
“oh
Tuhan...!” teriakku.
Aku
memandang dengan ngeri ke depan. Aku
melihat banyak pasang mata berwarna merah darah sedang mengawasi kami.
“semon..!
apa yang harus kita lakukan”. Tanyaku gemetar.
“kita
harus mencari jalan lain”. Bisiknya.
Sedetik
kemudian tangan ku sudah dicengkeram olehnya, dan kami berteleportasi ke arah
lain. Namun ada sesuatu yang menyelip diantara aku dan semon saat
teleportasi. Benda itu membuatku
terjerembab jatuh. Sambil mengaduh aku
membalikkan tubuhku. Sedetik kemudian aku berteriak melihat sesuatu didepanku,
dan gelap.
******

Tidak ada komentar